MATERI LEKTOR

Pengertian, Peran-Tanggung Jawab, Tugas, Busana, Persiapan, Pelaksanaan & Evaluasi

Pengertian

  • Istilah Lektor berasal dari bahasa Latin, “lector”, yang secara harfiah berarti pembaca. Dalam Gereja Katolik, Lektor, yang juga dikenal sebagai pembaca atau pelayan sabda, memegang suatu pelayanan yang sangat penting dalam Liturgi Sabda. Fungsi utamanya adalah membacakan bacaan pertama atau kedua pada Misa, yang merupakan saat di mana Allah sendiri berbicara kepada umat-Nya dan Kristus yang hadir dalam Sabda-Nya menyampaikan Injil. Oleh karena hakikat ilahi ini, semua umat wajib menyimak bacaan-bacaan dari Sabda Allah dengan penuh hormat, karena ini adalah unsur yang sangat mendasar dan penting dalam perayaan Liturgi.
  • Secara khusus, Lektor dilantik untuk dapat menyampaikan bacaan-bacaan dari Kitab Suci, kecuali Injil. Selain tugas utama tersebut, Lektor juga memiliki fungsi lain, seperti ia dapat membacakan Mazmur Tanggapan di antara bacaan-bacaan (jika tidak ada pemazmur) dan mengumumkan intensi-intensi untuk Doa Umat (jika tidak ada diakon). Selebihnya akan dibahas lebih lanjut lagi mengenai Peran dan Tanggung Jawab seorang Lektor pada Bab 2. Namun, penting dicatat bahwa dalam perayaan Ekaristi, Lektor memiliki fungsi khasnya sendiri yang harus ia laksanakan. Jika tidak ada lektor yang dilantik, orang-orang awam lain yang cocok dan telah dipersiapkan dengan cermat dapat didelegasikan untuk melaksanakan fungsi ini. Tujuannya adalah agar melalui pembacaan teks-teks suci tersebut, umat beriman dapat menumbuhkan dalam hati mereka kasih sayang yang manis dan hidup terhadap Kitab Suci.
  • Peran-Tanggung Jawab

  • Semua pelayan dan umat wajib berbicara lantang dan jelas.
  • Bacaan dibawakan oleh lektor, Injil oleh diakon atau imam lain; jika tidak ada, oleh imam selebran.
  • Doa umat dipimpin imam dari tempat duduk; ujud doa singkat, jelas, dan mewakili umat.
  • Ujud doa dibacakan dari mimbar oleh diakon, lektor, atau awam yang ditugaskan.
  • Lektor bertugas mewartakan bacaan selain Injil, doa umat, dan mazmur tanggapan bila perlu.
  • Jika lektor tidak hadir, umat awam yang terlatih dapat membacakan bacaan Kitab Suci.
  • Bila pelayan lebih dari satu, tugas boleh dibagi, tetapi satu bacaan tidak dibagi dua orang (kecuali Kisah Sengsara).
  • Lektor membawa Kitab Injil (Evangeliarium), bukan Buku Bacaan Misa.
  • Bacaan pertama ditutup dengan “Demikianlah sabda Tuhan” dan dijawab umat “Syukur kepada Allah”.
  • Jika pemazmur tidak hadir, lektor membawakan mazmur tanggapan.
  • Doa umat ditutup imam dengan doa penutup sambil merentangkan tangan.
  • Tugas

  • Lektor dilantik untuk mewartakan bagi jemaat bacaan-bacaan dari Alkitab, kecuali Injil (PUMR 99), yakni Bacaan I atau II, atau bahkan - bila tidak ada petugas lain, juga kedua bacaan yang ada.
  • Lektor, bila tak ada pemazmur, boleh membawakan mazmur tanggapan (PUMR 99) setelah saat hening yang menyusul Bacaan I (PUMR 196).
  • Lektor, jika tidak ada diakon, boleh juga membawakan doa-doa umat setelah lebih dahulu dibuka imam (PUMR 197).
  • Lektor, jika tak ada lagu pembuka dan nyanyian komuni, boleh membawakan antifon pembuka dan antifon komuni yang terdapat dalam Misale kecuali kalau antifon-antifon itu didaraskan oleh jemaat atau imam (PUMR 48,87, 198).
  • Tugas lektor istimewa, sebab meskipun pada saat bertugas ada pelayan tertahbis, tugas itu harus dijalankannya sendiri (PUMR 99) sesuai kebiasaan tradisi (PUMR 59). Meski dalam kasus lektor tidak hadir, imam atau bahkan umat comotan, dapat mengambil alih tugas pembacaan sebelum Injil (ibid.), tugas lektor tetap memiliki kehormatan tersendiri untuk selalu dipenuhi sesuai martabatnya.
  • Busana

  • Gereja adalah Tubuh Kristus, di mana setiap pelayan memiliki tugas yang berbeda dan ditandai melalui busana liturgis.
  • Busana liturgis menunjukkan peran pelayanan serta menambah keindahan dan kekhidmatan Ekaristi, sehingga sebaiknya diberkati sebelum digunakan.
  • Busana dasar semua pelayan adalah alba yang dikenakan dengan singel, dan bila kerah pakaian terlihat digunakan amik.
  • Lektor, akolit, dan pelayan awam dapat mengenakan alba atau busana lain yang disahkan Konferensi Waligereja setempat.
  • Busana liturgis hendaknya indah dan anggun karena kualitas dan keserasian, bukan karena kemewahan.
  • Lambang atau gambar pada busana harus sesuai makna liturgi dan menghindari hal yang tidak pantas.
  • Warna busana liturgis memiliki makna simbolis sesuai misteri iman dan masa dalam tahun liturgi.
  • Warna putih digunakan pada Masa Paskah, Natal, perayaan Tuhan selain sengsara-Nya, Maria, malaikat, dan para kudus non-martir.
  • Warna merah digunakan pada Minggu Palma, Jumat Agung, Pentakosta, sengsara Tuhan, rasul, penginjil, dan para martir.
  • Warna hijau digunakan selama Masa Biasa sepanjang tahun.
  • Warna ungu digunakan pada Masa Adven, Prapaskah, dan dapat digunakan untuk Misa arwah.
  • Warna hitam dapat digunakan untuk Misa arwah bila sudah menjadi kebiasaan.
  • Warna jingga atau merah muda dapat digunakan pada Minggu Gaudete dan Minggu Laetare jika sudah biasa.
  • Busana lektor di Paroki Cicadas Gereja Santa Odilia adalah alba dengan singel dan simpul berada di sebelah kanan.
  • Busana liturgi harus bersih dan terawat dengan baik.
  • Penampilan lektor perlu dipersiapkan dengan baik agar perhatian umat terarah pada Sabda Allah:
  • 1.Rambut lektor ditata rapi dan sederhana,
    2.Lektor mengenakan sepatu formal hitam tertutup,
    3.Perhiasan dan riasan wajah digunakan secara wajar,
    4.Pakaian yang dikenakan harus rapi dan sopan,
    5.Busana liturgi harus bersih dan terawat dengan baik,
    6.Rambut lektor ditata rapi dan sederhana.

    Tata Gerak

  • Dalam prosesi menuju altar (dianjurkan terutama untuk misa hari-hari raya); bila tidak ada diakon, lektor - dengan mengambil posisi di depan imam selebran / konselebran (PUMR 120), dapat membawa Evangeliarium (Kitab Injil yang khusus memuat teks yang dipakai sepanjang tahun kalender liturgi; hindari membawa lembar teks misa!) dengan sedikit mengangkatnya di depan dada dan cover depan menghadap ke depan. Jika tidak membawa Evangeliarium, lektor berjalan dalam deret para pelayan lain (PUMR 195). Saat tiba di depan altar (di bawah panti imam), ketika rombongan prosesi lain berlutut, lektor membungkuk khidmat, kemudian berdiri bersama dan membawa Evangeliarium langsung ke altar serta meletakkannya di atasnya (baik bila ada book stand yang layak) lalu berbalik berjalan bersamaan dengan petugas-petugas lain menuju tempat duduk yang telah disediakan khusus (dianjurkan di antara umat di deret terdepan, dan tidak di wilayah panti imam).
  • Segera setelah imam selebran menyelesaikan Doa Pembuka, lektor berdiri dari tempat duduknya, berjalan menuju panti imam, berhenti dan berlutut sejenak (cukup 3 detik) di depari altar pusat, berdiri (tanpa tunduk lagi) lalu berjalan menuju mimbar baca atau ambo tanpa perlu menundukkan kepala ke arah imam selebran duduk. Berlutut di depan altar pusat dapat diganti dengan menundukkan kepala jika di belakang altar pusat tidak terdapat tabernakel (yang berisi tubuh Kristus).
  • Sambil berdiri tegak (tak satu pun kaki dimainkan, ditekuk atau jinjit sekali pun) segera lakukan persiapan kilat: 1. buka Lectionarium tepat pada halaman yang akan dibaca (pastikan sudah ditandai sebelumnya entah dengan pita atau pembatas lain), 2. pastikan microphone pada posisi on dan level ketinggiannya sesuai, 3. letakkan kedua tangan di atas-pinggir buku Lectionarium (untuk memastikan lembar halaman tidak terbalik tertiup udara mengalir; dan bila diperlukan, dalam posisi ini salah satu tangan dapat berfungsi untuk membantu mata mengikuti proses pembacaan).
  • Awalilah membaca dengan rumusan, “Bacaan diambil dari ….” (tanpa menyebut rubrik, bab maupun ayatnya) dan setelah jeda sejenak (cukup 3 detik) lanjutkan membaca teks keseluruhan. Kata-kata “Bacaan Pertama” atau “Bacaan Kedua” tidak perlu dibaca juga, sebab itu hanya judul, berkedudukan sama seperti Doa Pembuka, Doa Syukur Agung, Komuni dsb.7 Akhiri dengan rumusan, “Demikianlah sabda Tuhan” setelah lebih dahulu memberi waktu jeda 3 detik pada akhir teks.
  • Setelah selesai pembacaan Sabda Allah, lektor berjalan menuju depan altar, berhenti dan berlutut khidmat (3 detik) menghadap altar pusat lalu berdiri berbalik berjalan menuju tempat duduk semula.
  • Persiapan Tugas

  • Jauh hari memastikan diri telah mengetahui teks bacaan yang akan dibawakan (dapat melalui kalendarium liturgi)
  • Bacalah teks yang akan dibawakan, upayakan memahami dengan baik pesannya.
  • Pahami jenis teksnya, analisa dan urailah strukturnya, buatlah penuntun penggalan frasa baca, buatlah juga ragam tanda baca.
  • Menyediakan waktu untuk berlatih membaca berulangkali hingga sebaik mungkin dan dengan cara-cara kreatif (di depan cermin, direkam untuk kemudian didengar ulang, di depan orang lain atau suatu tim agar mendapat masukan dan kritik).
  • Selain latihan pribadi serupa itu, baik pula jika diagendakan latihan bersama lektor lain. Ketua tim liturgi paroki, atau yang diserahi tanggung jawab melatih, bisa ikut hadir menyaksikan dan turut memberi masukan dan bimbingan.
  • Baik bila membiasakan diri untuk melatih diri on the spot, bagaikan suatu gladhi bersih, pada saat menjelang tugas.
  • Pelaksanaan Tugas

  • Biasakan diri datang bertugas minim 30 menit sebelum misa dimulai - terutama bila mengikuti prosesi, agar cukup waktu untuk berganti busana (mungkin), menenangkan diri dan berdoa batin.
  • Bila tidak mengikuti prosesi dan tidak memakai busana liturgis, pastikan busana yang dikenakan sungguh layak dan pantas8 untuk tujuan peribadatan suci, terutama lektor wanita yang kadang agak complicated dalam urusan ini.
  • Bila duduk dan tidak membawa sendiri Lectionarium, pastikan lebih dahulu pada saat Misa belum dimulai bahwa di atas mimbar Sabda sudah ada Lectionarium dimaksud dan bahwa teks yang akan dibaca telah diberi tanda pembatas. Saat itu juga, meski bukan tugas lektor, pastikan pula bahwa microphone berada dalam keadaan siap.
  • Saat berjalan menuju mimbar, jika membawa Lectionarium, hayatilah bahwa anda sedang memegang ayat-ayat suci, kitab yang mengandung Sabda Tuhan sendiri. Sadarilah bahwa anda sedang berdiri di panti imam, sangat dekat dengan tabernakel tempat Allah yang kudus bertahta.
  • Saat membacakan Sabda Tuhan adalah saat ketika segenap kemampuan teknis, penguasaan alat dan suasana, pengalaman dan penghayatan terbaik (yang telah dilatih sebelumnya) anda buktikan.
  • Selama membaca hendaklah menjaga bahasa tubuh terjaga penuh kewibawaan, mengatur irama nafas yang dalam dan halus, dan membangun suara komunikatif tanpa kehilangan warna magis.
  • Evaluasi Tugas

  • Baik bila lektor membiasakan diri untuk mengadakan evaluasi pasca pelaksanaan tugas, baik secara jujur lewat introspeksi diri maupun melalui input atau kritik dari orang lain atau tim liturgi. Bergunalah untuk menggunakan jasa evaluasi tersebut bagi kepentingan diri meningkatkan kualitas baca.
  • Bahkan, demi membangun budaya kualitas tersebut, baik bila tim liturgi paroki secara rutin menggelar lomba lektor dengan para pemenang diberi hadiah tugas baca dalam misa-misa hari raya besar seperti Paska dan Natal, atau misa-misa penting lainnya. Bila kebiasaan ini dijaga rutin, bukan tidak mungkin membaca Sabda Allah akan dihargai sebagai tugas terhormat.
  • Baik jika di bawah koordinasi tim liturgi paroki, para lektor secara periodik diajak untuk berkumpul sebagai satu komunitas. Pertemuan ini dapat digunakan untuk sekedar berbagi pengalaman atau pun untuk tujuan yang lebih spesifik seperti pembekalan, pembinaan, latihan bersama, doa bersama dsb
  • Baik juga bila komunitas lektor dalam suatu paroki diberi kesempatan, sekurangnya sekali setahun, untuk memperoleh penyegaran rohani entah melalui rekoleksi maupun retret.
  • Logo & Media Sosial
    logo

    Follow kami:

    Jadwal Latihan
    • Kamis: 18:00 - selesai
    QR Kas Lektor
    QR Kolekte

    Scan untuk donasi digital

    Alamat Gereja

    Jl. Cicadas Ps. II No.45, Cikutra, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40124

    Telepon: (022) 7271501

    Lihat peta & rute →